Jumat, 28 Maret 2025

Dilema antara tetap berpuasa atau keringanan tuk berbuka puasa Oleh : Rizky Fadhilah

 


Jumhur ulama hanafiyyah, Malikiyyah, dan Syafi’iyyah berpendapat bahwa puasa lebih utama dari pada berbuka jika memang tidak menimbulkan bahaya baginya.([1]) dengan dalil firman Allah SWT :

 

وَأَنْ تَصُومُوا خَيْرٌ لَكُمْ     )  البقرة : 184 (

"Dan puasamu itu lebih baik bagimu." ( QS. Al-baqarah : 184 )

 

Adapun kelompok Hanabilah berpendapat berbuka dalam perjalanan lebih utama berladasan dengan hadits yang mengandung tentang kemurahan dari Allah.

إِنَّ اللهَ يُحِبُّ أَنْ تُؤْتَى رُخَصُهُ كَمَا يُحِبُّ أَنْ تُؤْتَى عَزَائِمُهُ.

  )رَوَاهُ الْبَزَارُ وَالطَّبْرَانِي (

"Allah menyukai kemurahan-kemurahanya dikerjakan, sebagaimana Allah menyukai  hukum-hukum ashlinya dikerjakan." ( HR. Al-Bazar dan Tabrani )

 

Adapun hadits :

لَيْسَ مِنَ اْلبِرِّ الصِّيَامُ فِي السَّفَرِ

"Bukan termasuk dalam kebaikan berpuasa dalam keadaan bepergian."  ( HR. Imam Tirmidzi )

Puasa yang dimaksud didalam hadits bukan puasa Ramadhan, atau puasa Ramadhan namun menyebabkan bahaya pada orang yang puasa.([2] ) Maka tetap lebih utama berbuka daripada berpuasa bagi orang yang bepergian.

 

Pertanyaaan 17 : Bolehkah berbuka bagi orang yang terus menerus dalam berpergian, seperti sopir bus luar kota ?

Jawab :

Ulama Syafiiyyah berbeda pendapat dalam masalah ini :

A.    Pendapat imam Subuki dan Imam Ramli didalam kitab Nihayah, Orang yang selalu dalam berpergian tidak diperbolehkan untuk berbuka, karena itu akan menyebabkan meninggalkan seluruh puasa wajib,  kecuali jika dia berniat untuk menetap tidak bepergian pada waktu yang telah dia tentukan guna mengqadha puasa yang dia tinggalkan, maka boleh baginya saat itu berbuka.  

B.    Pendapat Imam Ibnu Hajar didalam kitab Tuhfah  diperbolehkanya untuk berbuka puasa secara mutlaq.

Imam Ibnu Hajar mengkutip argumen Imam Subuki bahwasanya Imam Subuki berstatmen dalam satu pembahasan : “tidak diperkenankan berbuka bagi orang yang tidak ada harapan meluangkan waktu yang khusus untuk mengqadha, karena terus menerusnya dalam perjalanan.”

Imam Ibnu Hajar mengomentari : “akan tetapi justru yang benar adalah sebaliknya” (diperbolehkan berbuka secara mutlaq, tanpa adanya syarat ).([3])

                  Maka kesimpulanya diperbolehkan bagi orang yang terus menerus dalam perjalanan untuk berbuka sebagaimana pendapat Imam Ibnu Hajar, namun baginya harus mengqadha atas puasa yang dibatalkan.

 




[1]. Badai’us Sana’i  Juz : 2  Hal : 94 .  /  Busyral Karim Hal : 72  /   Mughni  Juz : 3 Hal : 295

[2] . Ghayatul Muna : 590

[3] . Hasyiah Syarwani A’la Tuhfatul Muhtaj juz : 3  hal : 430


     


===============

Penulis  :   Rizky Fadhilah

Editor    : @gilang_fazlur_rahman

Layouter: @najibalwijufri

 

𝙄𝙠𝙪𝙩𝙞 𝙏𝙚𝙧𝙪𝙨 & 𝙎𝙚𝙗𝙖𝙧𝙡𝙪𝙖𝙨𝙠𝙖𝙣.

 

"Sᴀᴍᴘᴀɪᴋᴀɴ ᴅᴀʀɪᴋᴜ ᴍᴇSᴋɪᴘᴜɴ ʜᴀɴʏᴀ Sᴀᴛᴜ ᴀʏᴀᴛ ." HR. Bukhari

📲 𝙄𝙠𝙪𝙩𝙞 𝙢𝙚𝙙𝙞𝙖 𝙨𝙤𝙨𝙞𝙖𝙡 𝙠𝙖𝙢𝙞.

IG : Instagram.com/nafas_hadhramaut

TW : Twitter.com/nafashadhramaut

TG : T.me/nafashadhramaut

FB : fb.com/nafas.hadhramaut

YT : https://youtube.com/@nafashadhramaut

TT : Tiktok.com/nafashadhramaut

Web : www.nafashadhramaut.id

▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬

WA : http://bit.ly/Nafas-Hadhramaut-Channel

Email : nafashadhramaut.id@gmail.com

▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬ 

Posting Komentar

Whatsapp Button works on Mobile Device only

Start typing and press Enter to search